|
Salah satu dari empat buku tentang pewayangan yang sangat ingin aku miliki adalah Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata yang dibuat dalam format Ebook Novel oleh penulisnya, Pitoyo Amrih.
Aku pernah menulis tentang website wayang milik Pitoyo Amrih dalam blog pribadiku ini. Dari website tersebut, aku banyak mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan dari tokoh para pewayangan yang diceritakannya.
Setelah beberapa bulan lamanya memendam hasrat untuk memiliki dan membaca buku-buku karya Pitoyo Amrih ini, akhirnya, kemaren aku memutuskan untuk membeli keempat buku yang ada di website Pitoyo Amrih (sebenarnya sih pengin beli 6 buku sekaligus, tapi karena ada keperluan lain, jadi ditunda dulu dan beli empat buku saja).
Keempat buku yang kubeli tersebut merupakan buku yang saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan benang merah ceritanya, aku memutuskan untuk membeli keempat buku yang berjudul Antareja Antasena, Narasoma, Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata dan The Darkness of Gatotkaca.    
Selain tertarik kepada buku-buku karya Pitoyo Amrih, aku juga salut dengan cara promosinya yang fokus terhadap hal-hal yang digelutinya. Seperti website tentang wayang miliknya, meskipun dia dapat menulis tentang hal-hal lain, namun Pitoyo tetap istiqamah hanya menulis tentang dunia wayang di dalam website wayangnya, sedangkan untuk tulisan dengan tema lain, dia posting di websitenya yang lain (Pitoyo Amrih termasuk salah satu penulis tetap di website Andrie Wongso).
Buku Bisma Dewabrata ini mengisahkan tentang
Seorang Bisma Dewabrata yang mempunyai pribadi yang istimewa. Ia lahir tanpa pernah tahu dan mengenal Ibu kandungnya. Cinta dan kasih sayang ibunya tercurah dari suara hati yang merasuk di hati dan pikirannya selama pengembaraannya. Sesuatu yang dia anggap berasal dari ibunya, yang sejatinya adalah seorang dewi dari bangsa dewa, bernama Dewi Jahnawi. Yang menurut kabarnya, perwujudannya sebagai manusia adalah kisah jalan kematian yang ditempuhnya. Kepergian Dewi Jahnawi sama gelapnya dengan saat pertama kali kemunculannya bertemu Prabu Sentanu, ayah Bisma.
Bisma disusui dan dibesarkan oleh Dewi Durgandini, seorang putri dari kerajaan Wirata. Dan Bisma memang seorang ksatria utama! Dia wujudkan pengabdian sepenuhnya kepada Durgandini sebagai rasa terima kasihnya atas kasih sayang masa kecil Bisma. Bagaimana pun sikap Durgandini kepada Bisma, tetap Bisma menghargai dan menghormati Durgandini dengan sepenuh hati.
Puncaknya adalah sebuah sumpah yang keluar dari mulut Bisma demi rasa lega Durgandini agar anak kandung Durgandini yang akan mewarisi tahta Hastinapura. Sumpah Bisma yang tak akan pernah menduduki tahta Hastinapura, walaupun dia yang paling berhak. Dan sumpah bahwa sampai mati tak akan pernah menyentuh perempuan agar tak ada keturunanya yang akan menggugat atas tahta Hastinapura. Sebuah sumpah yang luar biasa!
Sumpah itu yang membuatnya selalu menempuh perjalanan ke seluruh penjuru dunia wayang. Berguru ke semua resi, mendalami makna kehidupan. Sumpah itu juga yang membuat Bisma melihat bahwa kehidupan tak lain adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada janjinya, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada keluarga dan kerabatnya, pengabdian kepada kebenaran yang dipegangnya, pengabdiannya kepada kehidupan, dan pengabdiannya kepada Sang Pencipta.
Sumpah itu pulalah yang membuat dia tanpa sengaja menewaskan seorang putri ksatria yang pernah dicintainya, Dewi Amba.
Jalan hidup Bisma begitu panjang. Perang besar Baratayudha yang dikobarkan Duryudana, adalah sebuah pertempuran antar saudara yang disesalkan Bisma, sekaligus ditunggu selama hidupnya. Karena melalui perang itu, Bisma berkesempatan menempuh jalan kematiannya, rela mati di tangan Srikandi. Seorang putri ksatria dari Cempalareja. Tak seorang pun selain Bisma dan Antasena, yang menyadari bahwa semua yang ada pada Srikandi mirip dengan Amba.
Jalan hidup Bisma begitu panjang. Tak seorang pun di dunia wayang yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikirannya. Mengagumi secara diam-diam sosok Kresna, raja Dwarawati. Tapi hanya Antasena muda, yang paling dekat dan tahu siapa Bisma.
Untuk semua yang selalu mengabdi sepanjang hidupnya... (Awalan dalam Ebook Novel Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata) Dari sini, dapat kita lihat bahwa dalam membangun branding dan menjalankan bisnis onlinenya, Pitoyo fokus kepada hal-hal yang dikuasainya dan memilahnya dengan bijak sehingga dapat mendatangkan unique visitor atau pengunjung yang loyal terhadap websitenya.
|